6.8 C
New York

Yang Ganjil Saat Penyembelihan Sapi Kurban di Rumah Banjar

Published:

Menurut Supian, rumah Banjar yang telah berusia ratusan tahun itu memang dihuni mahkluk gaib. Pernah suatu malam, Supian yang sedang asyik menonton televisi terusik oleh gigitan nyamuk. Tak tahan, ia beranjak dari tempat duduknya dan berniat menyalakan obat nyamuk bakar untuk mengusir nyamuk-nyamuk. Tapi ternyata kotak obat nyamuk telah kosong. Sedikit kesal karena persediaan obat nyamuknya habis, Supian bergegas ke warung yang berada tak jauh dari rumahnya di Jalan Keraton, RT 9.

Di luar rumah, suasanya begitu sunyi meski jarum jam baru menunjuk angka sembilan. Gerimis yang turun sejak senja tadi membuat sebagian warga memilih tetap berdiam diri di rumah.

Suasana sunyi itu, sempat membuat Supian tertahan di teras rumahnya. Ia takut warung juga sudah tutup. Tapi ketakutan tak bisa tidur karena serangan nyamuk memaksanya menerobos gerimis menggunakan payung.

Payung terkembang, Supian siap melangkah menuju warung. Namun belum lagi Supian sempat meninggalkan teras, secara tak sengaja, Supian menoleh ke sudut gelap di samping rumahnya. Seketika matanya tak berkedip melihat ke arah pelataran rumah Banjar bergaya Bubungan Tinggi yang berada tepat di samping rumahnya. Rumah itu telah lama tak berpenghuni.

Seketika itu juga, Supian merasakan hawa dingin masuk ke sekujur tubuhnya. Ia berdiri mematung. Supian merasakan ada sesuatu yang menahan tubuh dan kedua kakinya. Dari tempatnya berdiri, dan hanya berjarak sekitar sepuluh meter, Supian melihat delapan kuda putih berbaris rapi di bawah pohon nangka di depan anjung kanan rumah Banjar itu.

Salah satu kuda ditunggangi laki-laki berperawakan tinggi besar. sosok laki-laki itu mengenakan pakaian serba putih dan mengenakan mahkota di kepalanya. Dengan menahan rasa takutnya, Supian menajamkan tatapannya menembus pekatnya malam berharap dapat melihat wajah sosok penunggang kuda. Meski berusaha keras, tetap saja Supian tak berhasil melihat wajah penggunggang kuda karena posisinya yang membelakanginya.

Cukup lama Supian melihat ke arah kuda putih dan seorang pengendaranya itu dengan mata nyaris tanpa kedip dengan bulu kuduk tegap bediri. Seperti tersadar dari lamunan, rasa takut oleh penampakan itu membuat Supian berbegas memalingkan arah. Sedikit tergesa, Supian melangkah menuju warung.

Sepulang dari warung, ia melihat beberapa warga masih berkegiatan di langgar yang berada tak jauh dari rumahnya. Supian singgah sejenak di langgar. Pada warga yang ada di langgar, ia menceritakan apa yang baru saja dilihatnya di pelataran samping rumah Banjar.

Namun saat ia menceritakannya, warga justru menyarankan Supian untuk tidak terlalu

memikirkan atau takut dengan yang baru saja di lihatnya. Menurut keterangan warga rumah Banjar yang sudah berumur ratusan tahun itu memang tempat tinggal mahkluk gaib yang konon berasal dari kalangan Kerajaan Banjar tempo dulu.

Menurut Supian, selain penampakan sosok laki-laki berkuda dengan mahkota di kepalanya itu, sering terjadi kejadian aneh di sekitar rumah bahari itu. Sering pada malam-malam tertentu terdengar derap langkah kaki kuda dan ringkikannya. Suara gaduh seperti orang yang sedang beruding juga kerap terdengar. “Yang sering pada malam Jumat,” kata Supian. (mikirkritis.com)

Related articles

Recent articles

spot_img