6.8 C
New York

Penanda Haji yang Tak Sesakral Dulu

Published:

Bolang adalah penutup kepala berupa selembar kain marhamah yang dipakai dengan cara dililitkan di kepala. Bebolang, begitu Hj Batinah dan warga Banua umum menyebut seseorang yang mengenakan bolang, merupakan tradisi temurun warga Banua setelah berhaji.

Menurut Hj Batinah, tak semua wanita yang sudah berhaji dapat melilit bolang. Kemampuan melilit bolang biasanya didapat dari sesama jamaah haji saat masih berada di Mekah. Setelah semua rukun haji tuntas, biasanya para jemaah haji yang berasal dari Kalsel saling berbagi ilmu dan belajar cara melilit bolang di pemondokan.

Perlu waktu berbulan-bulan untuk dapat mahir melilit bolang sehingga lilitannya terlihat bagus dan rapi. Hj Batinah mengaku, tak kurang dari tiga bulan ia baru bisa melilit bolang dengan benar. “Bagi yang sudah bisa, bebolang mungkin hanya perlu seperempat menit, tapi bagi yang belum mahir akan memakan waktu berjam-jam,” kata Hj Batinah ditemui belum lama tadi.

Namun, waktu yang berjalan seiring dengan berkembangnya kreatifitas dan teknologi, bolang kini ada yang dibuat sudah dalam bentuk jadi dan banyak dijual di pasar. Bolang instan, jauh lebih praktis saat dikenakan. “Dulu, bolang hanya dipakai oleh orang yang benar-benar sudah naik haji. Tapi sekarang ada juga yang bebolang tapi belum berhaji,” kata Hj Batinah.

Menurut Budayawan Banjar, Agus Suseno, bebolang sebagai tradisi yang tidak ditemui di daerah lain, merupakan hal positif sebagai bentuk pelestarian budaya dan tradisi lokal sebagai daerah yang memang terkenal kental nilai-nilai Islami. Bahkan di daerah-daerah yang yang juga kental nilai-nilai keislaman, seperti beberapa daerah di pulau Sumatera tak memiliki tradisi serupa.

Tak hanya sebagai bentuk pelestarian tradisi dan budaya masyarakat Banua, kata Agus Suseno, bebolang bahkan diserap dan mempengaruhi tradisi dan budaya lain. “Pada etnis pendatang dari Madura misalnya. Banyak yang kemudian mengadopsi bebolang bahkan ketika mereka kembali ke daerah asal. Dan di Madura sama sekali tak ada tradisi seperti itu,” kata Agus Suseno.

Namun di sisi lain, kata Agus Suseno, tradisi bebolang justru menunjukkan kuatnya unsur peodalisme dalam struktur masyarakat Banjar. Hal ini dikarenakan, bebolang dijadikan semacam penanda kelas sosial di tengah masyarakat. Seorang yang telah berhaji umumnya dianggap telah sampai pada strata ekonomi mapan. Jika bebolang otomatis bisa dipastikan haji dan otomatis akan dipanggil Pak Haji atau Bu Haji,

Bolang sampai saat ini memang masih terjaga unsur kesakralannya, dan masih menjadi pembeda antara seorang sudah haji atau bukan pada seorang wanita. Namun, kupiah putih atau biasa disebut juga kupiah haji yang dipakai kaum laki-laki tak demikian.

Padahal menurut Agus Suseno, di era 1970-1980-an kupiah haji sama sakralnya dengan bolang. Hanya orang-orang yang sudah benar-benar berhaji yang mengenakannya. “Sekarang bahkan hampir semua orang memakai kupiah haji atau kupiah putih,” kata Agus Suseno.

 Aktifitas kaum laki-laki yang lebih banyak dilakukan di luar rumah, dan lebih terbuka dalam bergaul dan berkomunikasi dengan banyak orang, kata Agus Suseno, diduga menjadi salah satu penyebab kian pudarnya makna kupiah haji sebagai salah satu penanda status sosial di tengah masyakat. “Ditambah lagi saat ini kupiah haji banyak dijual dipasaran,” kata Agus.  (www.mikirkritis.com)

Related articles

Recent articles

spot_img