Sulasih, atau warga sekitar tempat itu biasa menyebutnya Gunung Sulasih, sudah sejak lama di keramatkan. Banyak orang berdatangan dari berbagai daerah, seperti Banjarmasin dan Hulu Sungai, berziarah ke Sulasih. Ada juga yang datang membawa membawa nazar.
Tak ada yang tahu sejak kapan nama Sulasih digunakan untuk menyebut tempat itu. Dari cerita turun-temurun warga dan para peziarah yang datang, batu pipih yang ada di kubah Sulasih adalah tempat pertapaan Pangeran Suryanata, raja pertama Kerajaan Banjar. “Pada malam-malam tertuntu, sang pangeran kadang menampakan diri dengan menunggang kuda putihnya. Lengkap bersama pasukan kerajaanya,” kata Ponidi.
Tak jauh dari tempat batu berada, di bawah pohon randu terdapat sebuah sumur yang airnya tak pernah kering. Dengan meminum air dari sumur itu, konon dapat menyembuhkan penyakit yang sudah lama diderita dan tak sembuh-sembuh. “Namun jika dalam satu tahun tidak kembali datang ke Sulasih penyakitnya bisakambuh lagi,” kata Agus.
Supian, salah seorang peziarah yang datang bersama sejumlah sanak saudaranya mengatakan, sekali dalam setahun, meraka selalu menyempatkan diri datang untuk berdoa dan menggelar selamatan di dekat batu yang saat ini sudah dibangun kubah ini.
“Setahun sekali pasti ke sini. Dan itu sudah turun temurun sejak orang-orang tua kami dahulu. Karena jika tidak, akan ada saja anggota keluarga kami yang sakit,” kata Supian diamini para peziarah yang lain.
Disampaikannya, berdasarkan kisah turun temurun dari kakek moyangnya, konon di atas batu berwarna putih kecoklatan tersebut menjadi tempat bersemedinya Pangeran Suryanata. Saking lamanya bertapa, wadatnya moksa ke dunia sebelah.
“Yang kami tahu dari cerita turun temurun kakek nenek kami seperti itu. Ditempat ini dulu Pangeran Suryanata pernah bertapa hingga tubuhnya gaib di alam sebelah. Padahal hakekatnya Beliau masih ada di dunia ini,” kata Supian
Melengkapi ritual, para peziarah biasanya selalu menyempatkan diri membasuh muka dengan air dari sumur kecil yang terletak tak jauh dari batu yang kini sudah dibangun kubah. Beberapa peziarah ada juga yang mandi menggunakan air sumur. Sama halnya batu petapaan, sumur kecil dengan kedalaman tak lebih dari dua meter tersebut juga dikeramatkan. Karena meski cukup dangkal, air di dalam sumur tersebut konon tak pernah kering kendati musim kemarau melanda panjang. (mikirkritis.com)
